Bank DBS Indonesia meluncurkan aplikasi mobile bernama DBS BusinessClass, untuk membantu UKM dan startup mengembangkan jaringan bisnisnya.

Selain mendapatkan keuntungan sesuai target, mengembangkan bisnis ke skala yang lebih besar dan memperluas jaringan pasar merupakan impian tiap pelaku Small Medium Enterprise (SME) alias Usaha Kecil Menengah (UKM) dan startup. Namun, berbagai tantangan memang kerap ditemui, seperti kurangnya wadah yang dapat mempermudah tujuan-tujuan tersebut.

Untuk mengatasi hal itu, sekaligus juga sesuai fokusnya untuk ikut membangun UKM di Indonesia, Bank DBS Indonesia menggelar acara peluncuran aplikasi mobile, bernama DBS BusinessClass dan diskusi SME Outlook di Indonesia, pada Rabu (25/10/16) bertempat di DBS Tower, Jakarta.

Dituturkan oleh Steffano Ridwan, Direktur SME Banking, Bank DBS Indonesia, aplikasi mobile DBS BusinessClass tersebut memang secara khusus ditujukan bagi para pelaku bisnis UKM dan startup.

Steffano mengungkapkan, aplikasi tersebut telah diluncurkan di beberapa negara Asia lainnya, yaitu, Singapura, Cina, India, Hong Kong dan Taiwan, dan kini giliran Indonesia. Hingga kini tercatat telah ada 15 ribu anggota se-Asia, dan Indonesia sendiri telah mencapai 957 anggota sejak September 2016, dengan 400 global topic dan 45 advisors.

Melalui platform jejaring bisnis ini, Bank DBS Indonesia mengharapkan para wirausahawan dapat memperoleh wawasan, masukan seputar bisnis dan peluang pasar, serta berkonsultasi dan saling terhubung dengan pakar industri, investor dan sesama wirausahawan. Anggota juga dapat mengakses berita dan artikel tentang topik terkait bisnis yang ditekuninya, serta mengundang dan menghadiri acara networking.

Sementara Maynard Arif, Head of Group Research-Indonesia DBS Group Research, menyebutkan bahwa 98 persen usaha di Indonesia adalah usaha mikro, sesuai laporan Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2015. Sementara sekitar 40 persen dari populasi penduduk Indonesia, alias sekitar 100 juta penduduk, terserap sebagai tenaga kerja di sektor UMKM. Ini menandakan potensi UMKM yang begitu besar, termasuk pada GDP.

“Oleh karena itu, perhatian pada UKM diperlukan, selain dengan pelatihan, juga akses permodalan, hingga bagaimana agar bisa bantu UKM untuk ekspor atau ekspansi ke luar negeri,” kata Maynard.

Baca halaman selanjutnya: Potensi UKM go-online…