Pecha Kucha Night Jakarta kembali digelar dengan menghadirkan cerita-cerita unik dan menggugah tentang traveling dari 10 orang travelers.

Pecha Kucha Night Jakarta kembali digelar untuk ke-22 kalinya, Kamis (4/6) lalu, bertempat di Es Teler 77, Jalan Adityawarman No. 61, Jakarta Selatan. Acara 3 bulanan ini memang dinantikan, karena senantiasa mengangkat tema-tema menarik di setiap kesempatannya. Menurut Astari Laksmiwati, Community Curator dari Maverick, penyelenggara acara Pecha Kucha Night Jakarta, “Kami melakukan riset khusus untuk menentukan tema di setiap Pecha Kucha Night Jakarta. Dan untuk kali ini, kami angkat tema traveling, karena itu salah satu gaya hidup yang banyak dijalani orang Indonesia saat ini,” kata Astari. Oleh karena itu, Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 22 pun mengangkat tema “Globetrotter, Memperkaya Cakrawala Bersama Para Penjelajah Dunia”.

Pecha Kucha Night sendiri sedari awal dirancang untuk menjadi ajang bertemu dan berbagi antar sosok-sosok kreatif dan orang-orang yang memiliki hobi dan interes sama. Dirintis oleh Astrid Klein dan Mark Dhytam, Pecha Kucha Night pertama kali digelar di Tokyo tahun 2009, dan kini telah menyebar pada 800 kota di dunia. Istilah Pecha Kucha berasal dari 3 suku kata ‘peh-chak-cha’, sebuah istilah bahasa Jepang untuk menggambarkan suasana ruangan yang penuh orang-orang berbicara. Format Pecha Kucha Night didesain unik, di mana sejumlah pembicara terpilih, diundang untuk presentasi di depan audiens selama 6 menit dalam 20 slide power point, masing-masing slide berdurasi 20 detik. Format ini dikenal dengan 20 images x 20 seconds.

Atri juga menambahkan, pembicara yang dihadirkan pada Pecha Kucha Night Jakarta diambil dari berbagai kalangan, seringnya bukan dari kalangan mainstream, jadi cerita yang dihadirkan pun tidak monoton. “Kami juga melempar kepada para followers di Twitter @pechakuchajkt tentang siapa pembicara yang pantas mengisi acara ini. Setelah dapat banyak kandidat, tim kami meriset kelayakan kandidat tersebut,” ungkap Atri kepada Hitsss. Lalu siapa saja yang berbagi dalam Pecha Kucha Night Jakarta kali ini? Simak yuk!

Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 22 (Dok. Maverick)
Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 22 (Dok. Maverick)

1. Arian Arifin

Vokalis band Seringai ini membeberkan kisahnya menyambangi konser-konser musisi-musisi favoritnya di berbagai negara-negara dunia. Dengan gaya humorisnya, Arian mengungkapkan kecintaannya pada musisi-musisi metal internasional, seperti Slayer, Metallica, hingga Sipknot. Menurut Arian, wajib baginya menonton konse mereka, agar ‘sah’ menjadi anak metal. Kisah Arian menonton konser pun seiring dengan cerita traveling-nya ke berbagai negara. Sementara dana untuk membiayainya berkeliling dari satu konser ke konser yang lain, sumbernya beragam. Selain menjadi musisi, Arian juga aktif menjadi ilustrator, dan penulis lepas.

Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 22 (Foto: Kartika Adyani / Hitsss.Com)
Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 22 (Foto: Kartika Adyani / Hitsss.Com)

2. Rijal Fahmi Mohamadi

Rijal kerap melakukan traveling dengan gaya road trip alias melalui jalan darat. Rijal lebih senang menempuh waktu lama di perjalanan, untuk memuaskan hasratnya mengeksplorasi keindahan alam Indonesia. Dengan menggunakan sepeda motor kesayangannya, travel blogger yang satu ini sudah menginjakkan kakinya di berbagai daerah di Indonesia. Melalui blog-nya catperku.com, Rijal menuangkan kisahnya secara detail, agar pembaca memperoleh banyak inspirasi dan informasi tentang perjalanan yang dilakukannya.

3. Nuri Arunbiarti

Nuri dikenal sebagai fotografer konser musik yang sudah melanglang buana. Awalnya kebosanan melanda Nuri hingga ia memutuskan untuk beralih dari kamera dan panggung musik, kemudian pergi traveling seorang diri. Nuri pun mencoba hal baru yakni menjadi relawan di bidang kepedulian anak. Kecintaannya pada anak-anak membuatnya ingin melakukan kegiatan itu, hingga akhirnya bulan April 2015 lalu, Nuri berangkat ke Nepal untuk menjadi relawan korban gempa dahsyat yang menimpa warga Nepal. Selama 2 minggu di Nepal, dimanfaatkan Nuri dengan sebaik-baiknya untuk membantu korban gempa, terutama anak-anak.

4. Tesya Sophianti & Rene Jayaprana

Inilah sepasang suami istri yang hobi traveling. Bersama kedua anak mereka yang berusia 8 dan 6 tahun, Tesya dan Rene memiliki banyak pengalaman dan pelajaran menarik hasil dari traveling mereka. Pada presentasi 6 menitnya, Tesya dan Rene juga berbagi tip traveling bersama anak-anak dengan detail. “Kami tak memungkiri bahwa bepergian dengan anak-anak itu repot, dan memerlukan biaya berlipat ganda. Tapi traveling bagi kami adalah reward setelah susah-payah bekerja. Anak-anak kami jadi terbiasa berlaku disiplin sejak kecil. Keluarga kami pun menjadi sangat solid,” Tesya mengungkapkan keuntungan traveling bersama keluarga.

5. Dini Hajarrahmah

Dini tak segan mengakui kalau ia ketagihan ber-traveling, namun ia ingin melakukannya secara berbeda. Kini tujuannya traveling-nya bukan hanya hiburan semata, tapi juga membawa Dini membuka bisnis sosial-travel Wanderlust Indonesia. Dengan penuh perhatian terhadap lingkungan dan warga lokal di berbagai destinasi wisata di Indonesia, Dini ingin mengajak para traveler untuk lebih bertanggungjawab atas perjalanan traveling. Melalui trip Wanderlust Indonesia, wanderer (peserta trip) dituntut untuk menjadi responsible traveler sekaligus menjadi relawan dalam program yang dirancang Wanderlust Indonesia.

Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 22 (Foto: Kartika Adyani / Hitsss.Com)
Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 22 (Foto: Kartika Adyani / Hitsss.Com)

6. Zulfikar Fahd

Di tengah kesibukan hariannya sebagai konsultan komunikasi, Zulfikar alias Fikar menyempatkan untuk traveling ke berbagai negara, seperti Uni Emirat Arab, Kamboja, Polandia, dan masih banyak lagi. Namun gaya travel yang digunakan Fikar berbeda dengan kebanyakan traveler. Ia tidak memerlukan banyak biaya untuk penginapan dan akomodasi. Dengan memanfaatkan jejaring sosial Couchsurfing, Fikar tidak mengeluarkan biaya penginapan. Bahkan untuk transportasi antar kota di dalam negeri, Fikar terbiasa menyetop mobil yang melintas, atau bisa juga menggunakan akses Bla Bla Car.

7. Linda Restu Bungasalu

Linda berhasil menggapai cita-citanya meninggalkan Indonesia dan tinggal di Australia. Linda melakukan traveling bukan hanya sekadar untuk menjelajahi benua Australia, melainkan juga untuk melangsungkan hidupnya dengan menggunakan Working Holiday Visa (WHV). Dalam presentasinya, Linda juga menjelaskan tahap-tahap untuk dapat menggunakan WHV di negara tertentu. Mulai dari Perth, Melbourne, hingga Coober Pedy, penah ditinggali Linda. Di kota-kota itu pula, Linda pernah mencoba berbagai macam pekerjaan dengan penghasilan yang beragam pula. Dimulai dari mengelap gelas wine seharian penuh, hingga menjadi babysitter. Kini Linda melanjutkan hobinya berkeliling dunia dan menuliskan kisahnya untuk majalah nasional dan juga blog-nya Places on and Off.

8. Kenny Santana

Kenny meninggalkan pekerjaan kantorannya demi traveling. Melalui akun Twitter @KartuPos, Kenny menceritakan secara gamblang kisah traveling-nya. Kenny pun kerap mengajak traveler lain yang bepergian bersamanya, untuk menceritakan kisah Twitter-nya melalui akun @KartuPos. Menurut Kenny, sangat penting untuk mendengar cerita traveling dari berbagai pandangan orang. Kenny banyak mengajak para followers-nya untuk traveling bersamanya melalui hashtag cerita-ceritanya. Akun @KartuPos sering kali berbagi hadiah menarik karena kerjasama dengan berbagai pihak. Kenny ingin sekali mewujudkan impian banyak orang yang ingin bepergian ke berbagai tempat, seperti berjalan-jalan di New York atau melihat aurora di Islandia, karena itu Kenny membuat beberapa trip dengan harga yang jauh di bawah kebanyakan travel agent.

Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 22 (Foto: Kartika Adyani / Hitsss.Com)
Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 22 (Foto: Kartika Adyani / Hitsss.Com)

9. Astrid Reza

Astrid memulai perjalanan traveling-nya karena ia ingin menulusuri asal-muasal keluarganya yang berasal dari kultur yang beragam. Traveling yang melibatkan unsur spiritualnya ini, dimulai sejak usianya 20 tahun. Diawali dari Pulau Jawa-Bali hingga ke tanah Himalaya. Sebagai seorang nomaden, Astrid pernah merasa sangat jatuh saat ia kehilangan sang ibu. Perjalanan inilah yang membuatnya kembali menemukan tempat untuknya berpijak. Astrid sempat lama menetap di Tibet, karena di sanalah ia merasa kembali hidup.

10. Giri Prasetyo

Giri menghadirkan cerita traveling yang berbeda dengan kebanyakan travel blogger atau jurnalis travel lainnya. Giri meringkas kisah-kisah perjalanannya dalam bentuk video-video yang mampu ‘mengundang’ hasrat mereka yang menonton untuk pergi traveling. Menurutnya, dengan membuat video traveling, orang akan melihat perjalanan tersebut dari berbagai sisi. Keahliannya dalam menggunakan teknik-teknik videografi, membuat video-video bikinannya menjadi semakin menarik. Seperti ketika Giri menggunakan drone yang mampu menangkap gambar dengan sudut pandang yang sangat luas.

Ada banyak cara yang dapat kamu pilih dalam melakukan traveling. Koper atau ransel, pesawat atau road trip, hotel mewah atau Couchsurfing, menjadi pilihan dan selera masing-masing dari para traveler. Yang pasti dalam melakukan traveling, ada satu hal yang bisa kamu dapatkan: sebuah pengalaman yang hanya bisa dirasakan ketika kamu tidak sekadar duduk membaca cerita traveling dari para traveler. Pengalaman tersebut bisa kamu rasakan bila kamu menjadi tokoh utama dalam sebuah kisah traveling. (KA)

Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 22 (Foto: Kartika Adyani / Hitsss.Com)
Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 22 (Foto: Kartika Adyani / Hitsss.Com)